Karena Hidup Hanya Sekali, Maka Berjuanglah Berkali-Kali dan Jadilah Insan Yang Gemilang
sampaikanlah informasi blog ini ke teman-teman anda, sebagai upaya serta sarana dakwah kita semua, dan jangan lupa untuk tinggalkan pesan guna perbaikan

Sabtu, 29 Mei 2010

4 Syarat Poligami dari Ustad Arifin Ilham

Ustad kondang Muhammad Arifin Ilham mengatakan Islam membolehkan seorang laki-laki untuk berpoligami. Namun, kaum muslim yang berniat memiliki istri lagi diimbau jangan terburu-buru. Ada 4 persyaratan yang harus dipenuhi.

"Empat syarat itu harus dipenuhi," kata Ustad Arifin Ilham kepada detikRamadan dan
beberapa sahabatnya di sebuah saung dekat rumahnya, kompleks pemukiman muslim Bukit Az-Zikra, Sentul Selatan, Jawa Barat.

Syarat pertama, jelas Arifin, muslim yang hendak berpoligami harus sukses membina rumah tangga pertamanya. Dia harus sudah teruji berhasil mendidik dan menjadi memimpin rumah tangga. Kedua, yang bersangkutan harus memiliki fisik prima. Ketiga, dia harus mempunyai harta kekayaan yang cukup. Dan keempat, dia mengetahui manajemen poligami.

Manajemen poligami yang dimaksud Arifin adalah pelaku poligami harus bisa berlaku adil. Adil dalam hal ini bukanlah sama rata, melainkan proporsional.

"Ada orang yang istri tua anaknya lima, istri muda anaknya satu, itu uangnya harus lebih banyak kepada istri yang pertama. Tapi biologis harus banyak ke istri yang kedua," canda suami Wahyuniwati ini.

Menurut dia, poligami adalah takdir dan fitrah bagi umat Islam. Ia tidak dapat ditolak apabila masanya telah tiba. "Kita nggak bisa bilang nggak. Kalau kita sudah digerakkan, mau apa kita?" tuturnya.

Jika melanggar fitrah poligami tersebut, lanjut ustad asal Kalimatan Selatan itu, seorang muslim bisa menderita karena gelisah setiap waktu. Dia juga akan cenderung berzina dan menuruti hawa nafsu setan. Selain itu, kehidupannya tidak akan normal lagi.

"Tapi ibu-ibu pengajian sering bilang 'nggak apa-apa deh suami saya nggak normal lagi," seloroh Arifin.

Arifin mengatakan, istrinya tidak pernah marah apabila dia bercanda seputar poligami. Sang istri selalu punya pemikiran cerdas untuk menyikapi tema itu dan pintar mengalihkan perhatian.

"Di tempat tidur berdua dia bilang 'Abang nanti kalau nikah lagi bilang apa
nggak?' Kayak tadi malam juga. Saya ditanya kakak kapan mulai kawin lagi, dia
bilang, 'Makan-makan, dingin nanti'" cerita Arifin.

Arifin sendiri cuma punya Yuni, panggilan Wahyuniwati, sebagai istri. Banyak jamaahnya yang menginginkan agar dia tidak melakukan poligami. Pesan jamaah tersebut bahkan disampaikan melalui kejadian-kejadian yang membuatnya terus merenung.

"Ada jamaah dari Semarang yang akan meninggal permintaan terakhirnya bertemu dengan Abang. Setelah jemput di Bandara dia meninggal dan menitipkan wasiat kepada Abang. Wasiatnya supaya saya tidak menikah lagi," pungkas Arifin.
READMORE...

Para Petinggi Alam Akhirat

Sesungguhnya kemuliaan diri tidak terletak pada kesombongan dan tidaklah sama dengan kehinaan. Kemuliaan adalah cahaya dan terletak di kutub yang lain, sedangkan kehinaan adalah kegelapan dan terletak di kutub yang lainnya lagi.

Menghindari kesombongan bukan berarti rendah diri. Karena rendah diri kepada sesama manusia adalah kehinaan. Menghindari kesombongan adalah rendah hati, beribadah hanya karena-Nya dan mau menerima kebenaran dari mana pun datangnya.

Tidak ada orang yang menghindari kesombongan kemudian menjadi hina. Sekalipun orang itu tidak dikenal di masanya, tetapi karena akhlaknya yang mulia dan beramal dengan ikhlas, Allah mematri namanya di hati dan pikiran generasi selanjutnya. Tidak terasa ratusan tahun kemudian namanya banyak disebut orang, nasihat-nasihatnya didengar dan diamalkan, akhlaknya menjadi contoh teladan. Inilah makna firman Allah, “Dan kesudahan yang baik bagi orang-orang bertakwa.” (QS al-Qashash [28]: 83).

Abu Dzar Ra. berkata, “Ada orang yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang orang yang mengerjakan suatu amal dari kebaikan dan orang-orang memujinya?” Beliau menjawab, “Itu merupakan kabar gembira bagi orang mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia.” (HR. Muslim).

Said bin Jubair walaupun bertahun-tahun dipenjara dan akhirnya dihukum mati, kepalanya dipenggal oleh seorang algojo, namun ulama dan kaum muslimin mencintainya dan mendoakannya karena dia adalah syuhada, pembela yang haq, dan penegak keadilan yang tak takut mati.

Ibnu Taimiyah mati di dalam penjara, namun kebaikan-kebaikannya terasa hingga kini. Dia dikenal sebagai ulama pembela as-Sunnah, panglima perang di medan jihad, dan seorang penulis yang tiada duanya. Kitabnya berjilid-jilid tebalnya, kandungannya sangatlah berharga, dan menjadi rujukan banyak ulama.

Hasan al-Banna mati ditembak, yang mengubur jenazahnya hanya empat orang; ayahnya, istrinya, anaknya, dan seorang nasrani. Hal itu terjadi karena seluruh pengikutnya dijebloskan ke dalam penjara dan para ulama tidak ada yang diberitahu tentang kewafatannya. Dia kini dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka, mujahid, ulama shalih, da’i, murabi, dan pendiri jamaah Islam terbesar di dunia.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim [14]: 24-25).

Sedangkan bagi orang-orang yang menyombongkan diri dan zhalim, sekalipun terkenal di masanya, kaya hartanya, tinggi kedudukannya, luas kekuasaannya, namun di masa kemudian hanya menjadi buah hinaan dan kutukan.



Al-Hajjaj seorang pejabat di masa kekhalifahan Umayah, dikenal karena kesadisannya, kekejamannya, pembunuh para ulama shalih, termasuk di dalamnya Said bin Jubair. Sekalipun kekayaannya banyak, kedudukan dan pangkatnya tinggi, namun ia hina di sisi Allah dan kaum muslimin yang mencintai kebaikan. Akhirnya ia mati dalam keadaan mengenaskan, tubuhnya dipenuhi bisul yang apabila muncul rasa sakit darinya, terdengar suara yang keras dari mulutnya seperti banteng yang meregang nyawa.

Ahmad bin Du’ad, seorang tokoh Mu’tazilah, ikut andil menyiksa Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad pun mendoakan kebinasaannya, maka Allah menimpakan padanya suatu penyakit yang membuatnya sering mengatakan, “Adapun separoh tubuhku ini apabila dihinggapi oleh seekor lalat, kurasakan sakit yang bukan kepalang hingga seakan-akan dunia ini kiamat. Sedang separoh tubuhku yang lain andaikata digerogoti dengan catut sekalipun, niscaya aku tidak merasakannya.”

Sultan yang memenjarakan Ibnu Taimiyah akhirnya turun tahta, ulama-ulama pembisiknya akhirnya tidak dihormati masyarakat. Ulama-ulama su’ (buruk) itu tidak dikenal kecuali hanya namanya, dan itupun hanya orang-orang tertentu saja. Tapi Ibnu Taimiyah dikenal sepanjang masa dan ulama-ulama serta kaum muslimin mengagumi dan meneladani sikapnya.

Raja Faruq, pembunuh Hasan al-Banna, akhirnya turun tahta setelah beberapa tahun kematian Hasan al-Banna. Dulunya dihormati, kini dicaci maki dan hanya bagian dari sampah sejarah mesir yang tak berguna. Pejabat-pejabat Mesir yang banyak menyiksa dan memasukkan aktivis ikhwanul muslimin ke penjara, seperti Gamal Abdul Naser dan Hamzah Basyuni mati secara mengenaskan. Yang pertama selalu dihantui ketakutan sebelum matinya, sedangkan yang kedua mati ditabrak truk penuh dengan besi sehingga tubuhnya tercabik-cabik tak karuan.

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim [14]: 26-27).

Seberapa kayanya Anda, kelak ketika mati harta itu tidak akan dibawa ke alam kubur. Seberapa pintarnya Anda, sangat mudah bagi Allah memberi satu penyakit yang menjadikan seluruh ilmu yang Anda miliki hilang. Sekuat apa pun Anda, sesungguhnya Anda tidak lebih kuat dari rumput yang sering diinjak-injak orang.

Jadilah batu mulia, jangan jadi debu. Batu mulia mahal harganya dan sangat indah bila dipandang mata. Sedangkan debu, menempel di baju, menjadi kotor. Di mana pun ia menempel, sesuatu itu menjadi kotor. Batu mulia tersembunyi di dalam tanah, sangat sulit mencarinya. Kalaupun bisa, ia diambil dengan menggunakan alat khusus. Jika sudah diketahui ada di suatu tempat, beramai-ramai orang ke sana mencarinya.

Sedangkan debu, terlihat di depan mata, bahkan bisa membuat mata sakit, bisa membuat orang alergi. Orang-orang berusaha sebisa mungkin menghindari debu. Amal yang dilakukan bukan karena Allah – di dalam al-Quran – diibaratkan “batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak berdebu)”. (QS. al-Baqarah [2]: 264). Begitulah amal orang-orang yang sombong, tidak mendapatkan apa-apa selain hanya gerakan-gerakan yang melelahkan.
READMORE...

Mengapa Rosulullah SAW di Musuhi

Karena akhlaknya, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dicintai dan dihormati segenap kalangan. Tua-muda, laki-perempuan semua sangat terkesan dengan pribadi agungnya. Kemuliaan kepribadian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bukan baru hadir setelah beliau diangkat Allah menjadi Nabi. Bahkan sejak masa jahiliyah masyarakat musyrik Quraisy Mekkah menjuluki beliau dengan ”Al-Amin” (laki-laki terpercaya). Hal ini bahkan diabadikan di dalam firman Allah:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

’Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qolam ayat 4)

Namun siapapun yang mengenal sejarah hidup Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam pasti tahu bahwa dalam hidupnya beliau juga memiliki musuh. Dan tidak sedikit di antaranya yang sedemikian benci kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sehingga berniat membunuh manusia mulia ini. Sehingga muncullah suatu pertanyaan di dalam benak fikiran kita. Jika akhlak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam diakui sedemikian mulia, lalu mengapa beliau masih mempunyai musuh? Mengapa masih ada manusia yang berniat membunuhnya jika semua orang sepakat bahwa akhlak beliau sedemikian mengagumkan?

Saudaraku, hal ini hanya menggambarkan kepada kita bahwa sesungguhnya ada hal lain yang jauh lebih utama daripada perkara akhlak yang menyebabkan manusia menjadi siap bermusuhan dengan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Hal itulah yang dinamakan dengan ”Al-Aqidah” atau keimanan. Siapapun orang yang memusuhi Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam pastilah orang yang tidak suka dengan ajaran aqidah atau keimanan yang dibawakannya. Mereka tidak bisa memungkiri kemuliaan akhlak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam, namun mereka sangat tidak suka dengan ajaran aqidah Tauhid yang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam da’wahkan kesana-kemari. Sebab menurut mereka, ajaran Tauhid mengancam eksistensi ajaran mereka. Ajaran mereka, yaitu kemusyrikan, menyuarakan eksistensi banyak ilah (tuhan), sedangkan ajaran aqidah Tauhid menegaskan hanya ada satu ilah di muka bumi yaitu Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Lalu seseorang yang berikrar syahadat Tauhid diharuskan mengingkari eksistensi berbagai ilah lainnya untuk hanya menerima dan mengakui Satu ilah saja.

Sehingga dalam catatan Siroh Nabawiyyah (sejarah perjuangan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam) kita sempat menemukan bagaimana paman Nabi, yakni Abu Tholib, diminta oleh para pemuka Musyrik Quraisy untuk melobi Nabi shollallahu ’alaih wa sallam agar mau menghentikan seruan da’wah Tauhid-nya dengan imbalan apapun yang diinginkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Tetapi apa jawaban Nabi shollallahu ’alaih wa sallam terhadap permintaan mereka?

”Demi Allah, hai Pamanku...! Jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud agar aku meninggalkan urusan ini, maka saya tidak akan melakukannya, sampai Allah memenangkannya atau aku hancur dalam melaksanankannya...!”

Pada dasarnya seruan Tauhid inilah seruan abadi para Nabi dan Rasul utusan Allah. Umat manusia sepanjang zaman didatangi oleh para Nabi dan Rasul secara bergantian dengan membawa misi mengajak manusia agar menghamba semata kepada Allah dan menjauhi Thoghut.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

’Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu". (QS An-Nahl ayat 36)



Sebelum para Nabi dan Rasul mengajarkan apapun, mereka senantiasa mendahulukan pengajaran akan hakikat fundamental pengesaan Allah. Tiada gunanya segenap amal-sholeh dan amal-ibadah diajarkan kepada manusia jika tidak dilandasi sebuah pemahaman sekaligus keyakinan mendasar akan keesaan Allah. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan bahwa hakikat kebencian kaum kafir hingga tega menyiksa sesama manusia lainnya ialah dikarenakan manusia lain itu memiliki keimanan akan keesaan Allah semata.


وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

”Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu'min itu melainkan karena orang-orang mu'min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS Al-Buruuj ayat 8-9)

Inilah hakikat permusuhan dan konfrontasi di dunia. Permusuhan yang sesungguhnya ialah permusuhan karena pertentangan aqidah bukan yang lainnya. Seorang mu’min sepatutnya menyadari bahwa Nabi kita yang mulia akhlaknya itu tidak pernah dibenci lantaran akhlaknya. Namun setiap bentuk kebencian dan permusuhan yang diarahkan kepada beliau senantiasa bertolak dari ketidak-relaan manusia untuk menerima sekurang-kurangnya mentolerir keberadaan aqidah Tauhid yang diajarkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.

Maka sudah sepantasnya kita selalu introspeksi dan evaluasi diri. Jika dalam kehidupan ini kita ternyata dimusuhi manusia, maka jangan bersedih dulu. Sebab Nabipun pernah dimusuhi. Namun selanjutnya kita perlu lihat, apakah manusia memusuhi kita lantaran akhlak kita atau aqidah kita. Jika ternyata kita dibenci lantaran akhlak kita, maka sudah sepatutnya kita ber-istighfar dan memperbaiki diri. Karena Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak pernah dibenci manusia lantaran akhlaknya. Namun jika kita dibenci lantaran aqidah kita, maka sepatutnya kita bersyukur dan bersabar. Sebab Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabatnya-pun dibenci karena aqidahnya. Itupun dengan satu catatan, yaitu kita selama ini memang sudah terus-menerus berusaha meluruskan dan mengokohkan aqidah Tauhid kita setiap hari. Semoga saudaraku...


وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran ayat 139)
READMORE...

Pengelihatan Alam Akhirat

Tokoh kita ini adalah Prof DR H Salim Badjri, ahli tafsir yang memimpin langsung FUI untuk menggempur tempat maksiat.

Karena tuduhan pun bermacam-macam seperti Wahabi. Tapi menurutnya tidak usah heran, itu bahasanya Snouck Hurgronje. Mereka menuduh itu karena bergurunya pada Snouck. Harusnya kalau seorang Muslim sadar, yang dia lakukan kalau sudah mentradisi maka harus dilepas, “Masa bikin agama di atas agama?” serunya.

Jadi Apa makna amar ma’ruf nahi munkar. Salim Badjri merujuk ke al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang batil. Jadi tidak drastis, harus ada peringatan dulu. Lapor dulu ke aparat, kalau sudah mentok baru kita masuk. Jadi kita memperkecil risiko. Jadi berjuang di jalan Allah SWT atas bimbingan ayat, tidak drastis.

Berikut perbincangan Eman Mulyatman dari Sabili dengan Salim Badjri di rumahnya. Meski baru keluar dari rumah sakit -karena kelelahan, sosok ini tidak kelihatan melemah ketika berbicara perjuangan memerangi kemaksiatan. Berikut petikannya:

Kenapa ulama menjadi lembek?

Karena nahy munkar ada risiko. Takut dengan risiko itu. Tahu tapi pura-pura tidak tahu. Orang Muslim yang mengaku beriman itu harus dipanggil dengan banyaknya kemaksiatan, keburukan. Dia harus tampil, sebab kemaksiatan berkembangnya cepat sekali.

Tapi kebanyakan ustadz, ceramahnya lembek?

Betul! Padahal di zaman Khalifah Abu Bakar, memerangi pembangkang zakat. Itulah alasan Indonesia bukan negara agama. Padahal nabi mengatakan, setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Jadi untuk menjadi pemimpin harus dikader dulu. Itulah di antara kelemahannya, kaderisasi.

Memang sudah disinyalir oleh Rasulullah saw, suatu saat umatku akan seperti buih. Laksana makanan di atas nampan yang akan menjadi rebutan musuhnya. Para sahabat bertanya, “Apakah jumlah kami sedikit ya Rasul saw?” Tidak, bahkan sabda rasul saw. Kenapa begitu, karena umat Islam tertimpa al Wahn. Apa itu wahn? cinta dunia dan takut mati. Jadi kalau orang cinta dunia, dia akan menghimpun keduniaan dan takut mati. Makanya, berebut ingin di eksekutif atau legislatif. Sampai bayar segala, padahal itu satu amanah yang cukup berat. Makanya sahabat Umar bin Khatab, jubahnya penuh tambalan, saking takutnya dimintai pertanggungjawaban. Sedangkan untuk diri sendiri saja belum tentu bisa.

Seperti di surat al-Qashash ayat 77. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Jadi mata itu untuk ibadah, telinga untuk ibadah, pikiran, kesehatan, mulut, tangan dan kaki untuk ibadah. Jadi sehari semalam berapa jam yang kita gunakan untuk ibadah?

Apa akibat mengabaikan hukum Allah?

Subhanallah. Kalau kita lihat al-Qur’an ancamannya sangat berat. Seperti di surat al-Mu’minun ayat 99. “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Tuhanku kembalikanlah Aku (ke dunia)’.” Maksudnya: orang-orang kafir di waktu menghadapi sakaratul maut, minta supaya diperpanjang umur mereka, agar mereka dapat beriman.

Juga di surat Qaf ayat 22. “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, Maka kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, Maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.”

Padahal Nabi saw mengatakan, sakitnya lebih dahsyat dari 70 kali tusukan. Pada saat itu tabir alam gaib Aku angkat, maka penglihatanmu menjadi tajam, sampai menembus alam akhirat.



Ahli maksiat akan menjerit-jerit. Tangguhkan ya Allah, aku akan mengamalkan amal shalih yang aku tinggalkan. Tidak sekali-kali. Memang kebiasaan manusia ketika terjepit akan berjanji pada Allah. Tetapi setelah lapang kembali lupa.

Sudah sangat jelas ancamannya?

Jelas sekali kalau membaca al-Qur’an.

Mengapa ulama sibuk seminar, menulis buku dan berdebat saja?

Orang bisa disebut alim, tapi belum tentu beriman. Kalau orang beriman itu akan keluar dari dalam dirinya jiwa ikhlas. Jadi kalau dia jadi ilmuwan sekadar alim, ilmunya hanya digunakan untuk dagang, popularitas atau entertainment. Seperti disinyalir dalam surat al-Mujadalah ayat 11. Jadi yang diangkat itu orang beriman dan berilmu. Kalau berilmu tidak beriman, dia kosong. Malah kalau berilmu tidak beriman, bisa jadi munafik. Seperti JIL.

Tren-nya organisasi Islam, menghindari aksi nahy munkar?

Kalau imannya kosong, maka tidak ada yang mendorong. Hanya sebagai rekreasi intelektual. Supaya dibilang ilmuwan. Makanya tidak setuju dengan aksi nahy munkar, tidak terpanggil.

Bagaimana denga aksi Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (GAPAS)?

Ya alhamdulillah, selama ini kita berkiprah sesuai dengan kemampuan. Dengan adanya gerakan ini mereka berhitung. Kalau tidak ada gerakan kemaksiatan berkembang cepat, apalagi pemurtadan, cukup besar.

Organisasi semacam ini terus dibidik?

Wa makaru wa makarallahu wallahu khairul makirin. Mereka membuat tipu daya dan Allah memperdaya mereka dan Allah sebaik-baik perencana. Semua itu tidak membuat kita lemah.

Tapi ancamannya fisik, penjara bahkan nyawa?

itu sudah kita perhitungkan, setiap perbuatan ada risiko. Penjara dunia itu enak, yang kita takutkan penjara akhirat.

Soal stigma buruk?

Biar saja, tidak ada masalah. Prinsipnya asal janga menipu, merugikan orang, mencabuli anak orang. Kalau yang lain silakan saja Zaal haq wa zahaqal bathil inal bathila kana Zahuqa, datang haq yang batil lenyap, sungguh yang batil itu pasti lenyap.

Tapi gerakan ini sering tidak mendapat dukungan dari umat Islam sendiri?

Mereka yang belum paham itu takut. Berbuat baik tidak usah takut. Malah masyarakat kalau ada apa-apa lapornya ke FUI.

Apa target Anda?

Cirebon itu mendapat predikat sebagai Kota Wali. Kami membantu merealisir, kalau sudah terealisir, bisa menjadi contoh bagi daerah-daerah lain. Nah sekarang orang belum merasakan. Masih ada perzinahan, mabuk-mabukan dan perjudian. Kalau terasa keamanan dan ketentramannya, mudah-mudahan daerah lain mengikuti.

Apa langkah-langkahnya?

Kami rutin mengadakan kajian rutin, untuk kaderisasi. Untuk jangka panjang kami mempersiapkan pesantren Hifzhul Qur’an. Jadi umumnya, SD- SMP hafal Qur’an. Enam tahun mondok hafal Qur’an. SMA-nya paham al-Qur’an. Menjadi apa pun, insinyur, dokter atau ahli ekonomi, silakan. Ini sudah kita persiapkan dan tanahnya sudah ada satu hektar lebih.

Mengapa?

Harus disadarkan lewat al-Qur’an. Kalau tidak dengan al-Qur’an tidak tergugah. Firman Allah SWT di surat ar-Rum ayat 30, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Allah menggugah fitrah manusia dengan al-Qur’an. Jadi orang berbuat salah timbul penyesalan, itulah fitrah. Kalau dia sering membaca al-Qur’an akan mengerti.

Sekarang terbalik, tuntunan jadi tontonan dan tontonan jadi tuntunan?

Jadi, sebenarnya sebagian besar umat Islam jarang membaca al-Qur’an dan terjemah. Ceramahnya jadi tontonan. Akibatnya jauh dari petunjuk. Kalau saya ceramah saya bilang ke hadirin, jangan mengharapkan saya akan melawak, karena saya bukan pelawak. Jangan harapkan saya menyanyi, karena bukan penyanyi. Kalau perlu Anda menangis.

Karena ini mengaji, tapi ketika saya bicara satu jam setengah, hadirin mengatakan kurang, kurang. Jadi kalau diisi dengan ayat akan nyambung, karena tergugah fitrahnya. Jadi sangat keliru kalau ada seorang penceramah melawak, itu sama dengan melecehkan ayat-ayat Allah. Kalau mau menjadi penyanyi jadi penyanyi saja. Jadi targetnya ingin laris saja.

Apa ancamannya?

Sudah jelas dalam al-Qur’an itu disebut istihza, memperolok agama Allah SWT. Maka dia akan tergolong fasik dan bisa jatuh kepada munafik. Jadi ketahuan bahwa aslinya dia jauh dari al-Qur’an walaupun dia mubaligh.

Mengapa di Jawa Barat yang mayoritas Muslim, marak akan kemaksiatan?

Itu akibat hukum Allah tidak diberlakukan. Makanya kemaksiatan dan korupsi tidak berhenti. Hukum manusia, cuma mainan. Membunuh divonis 15 – 20 tahun dapat remisi, keluar. Hukum Allah dibilang kejam, sadis. Padahal satu orang mencuri potong tangan. Tapi, ribuan orang sadar.

Kemarin FUI mengadakan Muzakarah?

Dari sekian utusan sangat setuju kalau Pusat tetap di Cirebon, karena kota wali. Pertama pengembangan Islam dari Cirebon, menapak tilas, mudah-mudahan Islam memancar lagi cahayanya dari Cirebon ke seluruh tanah air. Kemudian dilontarkan, siapa yang yang mau memimpin. Mereka tetap meminta saya. Peserta juga meminta segera dibuka di seluruh kabupaten yang berjumlah 540 kabupaten se-Indonesia.

Jadi FUI makin membesar?

Ya, ini permintaan musyawirin. Sebab mereka tahu ukhuwah itu penting, Islam menjadi lemah karena perpecahan. Sekarang ekonomi sudah lepas, umat Islam sudah miskin ekonomi, miskin ilmu dan miskin iman karena perpecahan. Jadi kita berjalan di tempat masing-masing, maka tidak ada kekuatan.

Bagaimana rencana pendirian pesantren al-Muttaqin?

Pesantren itu bersifat dinamis. Maka kita ambil guru-guru yang bersifat dinamis. Memang sempat ada kasus (terorisme) karena ada anak dari Cikijing yang nyantri selama 8 bulan terlibat terorisme. Cuma satu orang. Contoh; kalau ada satu polisi berbuat salah, apakah semua polisi tidak benar? Nah lulusan UI juga ada yang korupsi. Yang mengherankan kalau menyangkut Islam dicari-cari saja alasannya.

Letak itu di jalur Puncak Ciremai yang merupakan tempat wisata (prostitusi)?

Allah yang akan mengatur. Jadi ada orang yang memberi wakaf. Memang tidak mendapat izin. Tapi saya terus ngotot, harus ada alasan kalau menolak (pendirian) pesantren. Alhamdulillah tadinya di depan pesantren itu sudah dibeli cukong Jakarta untuk diskotik, akhirnya mereka batalkan. Jadi kalau kita serius dan ikhlas nanti Allah yang mengatur.

Bagaimana dengan pengamatan Ramadhan mengalami degradasi?

Allah sudah berfirman di surat al-Hadid ayat 20, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

Kalau sekarang baca al-Qur’an sudah malas. Karena al-Qur’annya diganti TV. Kosong dari al-Qur’an iman turun, tinggal baju kokonya saja yang takwa.
READMORE...